Cara menghitung coal recovery

Untuk menentukan suatu lubang pemboran di nyatakan selesai atau tidak adalah coal recovery harus mencapai diatas 95 persen.

Jika coal recovery tidak tercapai maka lubang pemboran tersebut di nyatakan gagal karena memberikan data yang tidak valid. Maka pada tempat tersebut akan dilakukan reddrill atau pemboran ulang dengan cara menggeser unit rig searah dengan strike sejauh minimal 2 meter dari lubang sebelumnya.

Pengukuran coal recovery menjadi sangat penting dilakukan oleh wellsite geologist ini karena jika terjadi reddrill maka lubang yang gagal tersebut tidak akan di bayarkan oleh perusahaan ke kontraktor pemboran.


Apakah coal recovery itu ?

Coal recovery adalah perbandingan antara tebal coal yang di dapatkan dari proses pemboran coring dengan tebal coal sebenarnya yang terekam oleh proses elektrikal logging.


Contoh: 

Pada suatu lubang bor di dapatkan 3 seam batubara dengan tebal masing-masing sebagai berikut;

Seam a: 1.30 meter

Seam b: 5.6 meter

Seam c: 4.5 meter


Setelah dilakukan elektrikal logging didapatkan tebal sebenarnya sebagai berikut:

Seam a: 1.50 meter

Seam b: 6.90 meter

Seam c: 6.70 meter


Maka pengukuran coal recovery seperti berikut:

Seam a: 1.30 meter ÷ 1.50 meter × 100% = 86.66 persen

Seam b: 5.60 meter ÷ 6.90 meter ×100% = 81.15 persen

Seam c: 4.50 meter ÷ 6.70 meter × 100% = 67.17 persen


pengukuran core recovery















Setelah melihat contoh pada hasil perhitungan coal recovery di atas maka pada lubang tersebut akan di lakukan pemboran ulang di semua seam karena tidak ada satupun yang diatas 95 persen.

Bagaimana jika Cuma satu seam yang di bawah 95% ?

Pemboran ulang tetap dilakukan tapi proses coring hanya pada seam yang kurang tersebut.

Seam yang diatas 95% hanya di lakukan pemboran open hole saja.

Coal recovery memang seharusnya tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 110% karena data logging yang di peroleh dari proses pemboran coring yang telah di lakukan. Data logging ini juga proses penggukurannya sesuai dengan titik nol pada kedalaman pemboran.

Oleh karena itu menjadi kesalahan operator pemboran jika sampai ada ketidaksesuaian data kedalaman pada saat coring dan juga logging.

Berikut beberapa penyebab core recovery yang kurang:

Core lose baca disini Penyebab core lose

Core split yang aus atau tidak layak pakai

Water lose (tidak ada cutting naik)

Stuck hole atau stuck core barrel

Vibration hole

Hole runtuh

Batubara lunak

Kesalahan operator pemboran

Kesalahan wellsite geologist

Data logging noise


Banyak sekali faktor  kurangnya core recovery yang menyebabkan pemboran harus di ulang. Di sinilah letak tanggung jawab sebagai wellsite yang mengawasi seluruh peralatan yang sudah tidak layak dan menyuruh untuk mengganti agar pada pelaksanaan pemboran tidak mendapatkan masalah dan terjadi pemboran ulang.

Wellsite harus bekerja sama dengan operator pemboran dengan masalah kerusakan alat bor dan memberikan semua informasi data lubang bor kepada operator logging sebelum di lakukan proses perekaman.

Data seperti jumlah seam, tebal seam, total kedalaman, formasi batuan, kondisi batubara, kedalaman water lose jika ada, kedalaman cassing jika ada, jenis fluida yang di pakai, logging in cassing atau out cassing, formasi pasir lepas, dan apakah ada runtuhan. Semua data tersebut sangat penting di ketahui sebelum dilakukan perekaman agar saat dilakukan logging tidak menemui noise atau data yang tidak akurat.

Demikian cara melakukan pengukuran coal recovery agar tidak terjadi pemboran ulang. Untuk mengetahui lebih dalam sebaiknya juga mempelajari cara menghitung data hasil elektrikal logging sebagai acuan penghitungan coal recovery.

Semoga bermanfaat bagi adik-adik yang bekerja atau akan melamar pekerjaan sebagai geologi di perusahaan pertambangan.